Dukungan semakin riuh menjelang tengah malam. Ratusan Semut Rangrang--sebutan yang diberikan Busyro untuk pendukung KPK--berdiri di dalam dan luar gedung. Di satu lantai pada gedung itu, Novel Baswedan, 36 tahun, tetap memelihara senyum meski lelah dan kurang tidur.
Budi Setyarso dari Tempo menemui penyidik alumnus Akademi Kepolisian 1998 itu pada pukul 01.30, Sabtu, 6 Oktober 2012. "Ini rekayasa, kekejian luar biasa," ujarnya. Oleh Kepolisian, ia dituding terlibat pembunuhan tersangka pencuri ketika menjabat Kepala Satuan Reserse Kepolisian Resor Bengkulu, delapan tahun silam.
Sebenarnya apa yang terjadi pada 2004?
Waktu itu saya baru seminggu menjadi Kepala Satuan Reserse setelah menjabat Kepala Urusan Pembinaan Operasi. Ada pencuri yang ditangkap, sempat ditembak, kemudian dihakimi massa. Ketika saya datang, pencuri itu tewas. Saya melihat tidak mungkin bisa mengusut siapa yang bertanggung jawab atas kematian itu. Akhirnya saya putuskan, saya ambil tanggung jawab. Jadi, ketika peristiwa terjadi, saya sebenarnya tidak di lokasi.
Anda keras dalam menangani perkara korupsi di Korps Lalu Lintas, mungkin karena itu Anda diincar?
Kami mengusut kasus ini bukan untuk merusak institusi Polri, melainkan justru memperbaikinya. Kami memiliki solusi, bukan mengobrak-abrik. Saya tidak berhenti setelah kriminalisasi ini. Akan saya buka semuanya. Kalau perlu, saya akan bicara kepada pers, kalau diizinkan pimpinan KPK.
Apa rencana Anda menghadapi kasus ini?
Saya akan menyiapkan penasihat hukum. Akan saya hadapi perkara ini.
Wawancara selengkapnya, lihat Majalah Tempo.

0 Comments